Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Agustus 2022

Hetalia Yandere!England x Neko!Reader



Sumber : Pinterest


 -England POV-

Aku menatap gadis neko itu dengan wajah memerah. Oh, betapa cantiknya dia. Telinga kucingnya yang putih berbulu indah, wajahnya yang mulus dan pipinya tembem, ada semburat merah manis. Pakaian kimononya yang manis, bermotif bunga mawar. Ekor yang berbulu berwarna putih indah. Ah, rasanya ingin sekali mengelus ekor indahnya itu.

Aku tidak sadar kalau gadis manis itu juga menatapku. Dia melambaikan tangan mulusnya ke arahku sambil tersenyum manis.

Astaga! Betapa cantiknya dia! Senyumannya itu membuatku semakin tergila-gila padanya! aku membatin.

"Permisi, Tuan ...," sapa gadis neko yang sangat manis itu.

Aku gelagapan. Buru-buru aku memasang tampang wibawaku. "Oh, ada apa?" tanyaku berusaha menormalkan detak jantungku yang semakin tak karuan.

"Anda tahu di mana rumah Japan-san? Aku sudah lama ingin ke rumahnya. Tapi aku sangat sibuk akhir-akhir ini ...," kata gadis neko manis itu.

Gadis cantik ini mengenal Japan?! Bahkan dia juga akrab dengan Japan?! Bloody Hell! caciku dalam hati.

"Halooo~ apakah kamu mendengarku?" 

Aku terkejut. "Oh ... uh ... aku juga ingin ke rumah Japan. Mari, kita pergi bersama-sama ...," jawabku akhirnya.

Gadis neko manis itu tersenyum lebar. Ada semburat merah manis di pipinya.

"Benarkah? Aku sangat senang Anda mau membantuku! Terima kasih banyak, Tuan! Ah, aku tak sabar bertemu dengan Japan-san. Dia bilang dia akan membuatku mochi kesukaanku!" Seru gadis neko manis itu dengan penuh semangat.

Tiba-tiba aku merasakan ribuan jarum menusuk jantungku. Sakit .... Dia tersenyum untuk Japan, bukan aku ....

Aku memaksakan diriku untuk ikut tersenyum. "Yeah ... aku juga akan dibuatkan mochi olehnya ...."

Gadis manis itu tersenyum manis. "Kalau begitu kita bertiga makan bareng dong?" Tanyanya.

Tidak, aku ingin makan berdua saja ..., batinku.

"Iya," jawabku.

"Oh, ya. Siapa namamu? Perkenalkan namaku [F/N], kamu bisa memanggilku [Name]!" serunya penuh semangat.

"Namaku England, Kitty ...," sahutku sambil tersenyum elegan.

Kulihat [Name] tampak senang dengan kata terakhirku barusan.

"Ahahaha... semua orang yang kutemui di kuil selalu saja memanggilku Kitty ... aku enggak menyangka kalau orang luar juga memanggilku seperti itu. Ah ... terutama si ... siapa ya? America?" [Name] tertawa.

Lagi. Aku merasakan jantungku ditusuk ribuan jarum berkali-kali. Jadi, si Hamburger Freak itu sudah mengenal [Name] tercinta? Dan, hampir semua orang memanggilnya dengan sebutan Kitty? Seharusnya aku yang menyebutnya untuk dia!!!

"Ya sudah ... yuk, kita berangkat sekarang. Aku tidak sabar bertemu dengan Japan-san, hehehe ...," [Name] terkekeh manis. Kekehan [Name] sukses membuatku gila. Aku ... cinta dia ... aku sangat mencintainya.


Aku ingin ....


Dia milikku seorang ....


♡♡♡


-Normal POV-


[Name], Japan, dan England berkumpul di ruang tamu. Mereka bertiga memakan mochi buatan Japan. Di antara mereka bertiga, hanya [Name] yang makannya penuh dengan semangat. Dia tidak malu dengan caranya makan di depan orang lain. Yaah ... [Name] itu tipe gadis yang pede. Dia enggak malu sama dirinya sendiri.

Japan dan England asyik memperhatikan tingkah lucu [Name]. England dari tadi tidak melepas pandangannya dari [Name]. Pikirannya terus dipenuhi wajah menggemaskan [Name].

[Name]ku sangat manis ... dia tidak seperti gadis kebanyakan. Dia tidak malu dengan caranya di depan umum ... dia sangat manis ..., batin England.

[Name] yang menyadari dirinya diperhatikan dua pria hanya tersenyum sambil menunjukkan tangan kirinya yang membentuk 'peace'.

Japan menggeleng-geleng kepala. "[Name]-chan, kamu sama sekali tidak berubah. Masih suka makan mochi dengan lahap. Kalau mau, mau kubawakan sepiring mochi?" Tanya Japan.

[Name] berseri-seri. "Boleh? Kalau boleh, aku ingin membawa pulang mochi buatanmu. Ingin kumakan di kuil. Aku suka sekali mochi buatanmu!" Seru [Name] dengan penuh semangat.

Japan tersenyum, lalu mengangguk. "Tentu saja boleh [Name]-chan. Aku ambilkan dulu ya?" Japan beranjak dari posisi duduk sopannya. Sementara [Name] mengangguk ceria.

"Terima kasih Japan-san! Aku suka kamu yang selalu berbagi dan peduli pada orang lain!" Pekik [Name].

Japan terkekeh, "Terima kasih [Name]!" Balas Japan, lalu dia masuk ke dalam dapur.

[Name] dan Japan tampaknya tidak tahu kalau ada pihak lain yang terus menahan rasa cemburu. England yang dari tadi memperhatikan kedekatan mereka dan mendengar mereka saling menyatakan suka itu mulai marah. England melirik ke arah [Name] dengan tatapan mata melotot.

[Name] milikku! Jangan abaikan aku! Perhatikan aku! [Name]! [Name]!

"Tn. England? Anda kenapa?" tanya [Name] yang dari tadi merasakan aura buruk England.

England mendongak. Dia tersenyum penuh misteri pada [Name]. "Tidak apa-apa kok ...."

[Name] mengangguk pelan. Entah, mengapa dia memiliki firasat buruk pada Japan.

Tak lama, Japan datang membawa sepiring mochi kesukaan [Name]. [Name] dengan cepat menepis pikiran buruknya.

Pasti cuma perasaanku.

♡♡♡


Tiga hari kemudian  ....


-[Name] POV-

Aku duduk di atas bantal empuk dengan cemas. Aku memperhatikan orang-orang yang mengunjungi kuil, tempat tinggalku ini dengan wajah pucat. Kenapa perasaanku sungguh tidak enak? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Japan-san? Ah, aku sangat cemas.

Aku merasakan bahwa Japan-san dalam bahaya. Seperti ada seseorang yang hendak membunuh Japan-san! Tidak! Tidak mungkin hal seperti itu terjadi!

Bukankah Japan-san disukai orang-orang? 

Tapi, perasaan burukku tidak bisa hilang. Aku semakin waswas.

Aku ... sebaiknya pergi untuk memastikannya!

Aku pun segera menyatukan kedua tanganku. Aku membacakan mantra berpindah tempat dalam hati.

Kumohon! Semoga saja Japan-san baik-baik saja!!!

Booff!


-Di rumah Japan-

Aku membuka kedua mataku secara perlahan. Ketika kedua mataku terbuka lebar, kulihat England sudah berjongkok di depanku sambil tersenyum yang tak kubisa artikan. Aku melihat pelipisnya mengeluarkan darah. Bajunya sedikit terbuka dan dasinya longgar. England tersenyum manatapku.

"Halo, my kitry~ kenapa kamu baru muncul sekarang? Aku sudah menunggumu, lho~" sapa England dengan nada yang membuatku bergidik ngeri.

"Ada apa denganmu Tn. England?! Mengapa Anda babak belur? Apa Anda habis berkelahi dengan Japan-san?!" Tanyaku panik.

England tersenyum. "Hei ... hei ... tenanglah Kitty ... jangan memanggilku Tn. England ... panggil saja aku England. Soal si Bloody Japan itu sedang tergeletak tak berdaya di dapur," jawab England santai.

Aku terkejut. Aku pun langsung bangkit dan berlari menuju dapur. Yang benar saja! Aku melihat Japan-san tergeletak tak berdaya. Di kepalanya terdapat darah merah yang mengalir deras hingga membasahi lantai. Tidak! Di sekujur tubuhnya terdapat banyak sekali sayatan benda tajam! Apa-apaan ini?!

"Japan-san! Bangunlah! Apa yang terjadi padamu?!" Teriakku panik.

Japan-san mengerang. Syukurlah dia masih hidup! 

"Japan-san! Apa apa denganmu?! Bertahanlah! Aku akan menyembuhkanmu!" Pekikku, panik.

Japan-san memegang tanganku. Dia menggelengkan kepalanya bermaksud aku tidak perlu menyembuhkannya. 

"Tidak, [Name]-chan ... tidak perlu menyembuhkanku .... [Name] ... apa pun yang terjadi, larilah. Larilah, tinggalkan aku sendiri ....  kau harus jauhi pria itu. Sebab kau tak akan menang .... Aku ingin kamu baik-baik saja ...." Japan-san tersenyum miris. "Selamat tinggal, Sayang ...." Japan-san menutup kedua matanya. Selamanya.

Aku terkejut. Kedua mataku memanas. Air mataku menyeruak keluar dengan deras. Tidak! Tidak! Jangan mati Japan-san!!!

"Woah ... woah ... Kitty ... kenapa kamu menangis? Sini, biarkan aku memelukmu, Sayang ...," England berjalan mendekatiku sambil merentangkan kedua tangannya.

Aku menatap England dengan tatapan ngeri. Aku benci dia ....

"Pergi kamu! Kamu telah membunuh Japan!" Pekikku keras. "Aku benci padamu!!!"

England terlihat terkejut. Seketika, air mukanya mendadak berubah. Menjadi sangat gelap ... penuh kemarahan dan kebencian ....

"Kenapa Kitty? Kamu tidak menerima cintaku yang amat besar ini? Hanya gara-gara lelaki sialan di belakangmu itu?" England berjalan mendekatiku dengan wajah mengerikan. Dia tersenyum sangat lebar. "Aku sangat mencintaimu ... amat mencintaimu ... kamu milikku ... milikku ...."

Aku menatapnya nyalang. Akibat emosiku yang meledak-ledak, langsung kukeluarkan cakar yang selalu bersembunyi di jari lentikku.

BETS! Kuayunkan cakarku ke wajah pembunuh di depanku. 

"FU*K!!!" jerit England.

Dia berteriak sembari memegang wajahnya yang mengeluarkan darah. Karya cakaranku tercetak di wajah jeleknya.

"Hahahaha ... lihat wajahku ini karena ulahmu, Kitty. Betapa nakalnya kamu," England menatapku dengan mata kirinya. Sementara mata kanannya sobek karena cakaranku yang memanjang dan dalam.

"Kenapa? Kau suka, kan? Kau bilang kau mencintaiku, kan? Boleh dong aku melakukannya untukmu?" tantangku sambil menatapnya murka. 

Air mataku tidak berhenti mengalir ....

England menghela napas, "Itu benar. Tapi sepertinya kau bukan kucing yang penurut. Aku akan membuatmu nurut."

England mengeluarkan belatinya. Dia menarik tangan kanannya yang sedari tadi menutup wajahnya yang terluka terkena cakaranku.

"Ayo duel."

Aku menyeringai. "Baiklah."

Aku menajamkan cakarku. Sementara England memasang ancang-ancang dengan belatinya. Tanpa babibu, aku berlari kencang ke arahnya. England yang tampaknya sudau berpengalaman, langsung menghindar ke kiri. Dia mengayunkan belatinya ke atasku. Dengan cepat, aku menangkisnya.

Crat! Satu cakaran panjang mengenai dada bidangnya.

"Ukh ...," England meringis.

Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung saja kuarahkan cakarku ke wajahnya lagi. 

Aku ingin wajah jeleknya hilang, batinku.

Crat!

"AAAAAAAAAAHHH!!!!" 

TANGANKU! TANGANKU!

Pria bre*gsek itu ... dia menebas tanganku!

Aku menangis. Memegang tangan kiriku yang terkena tebasan belati tajamnya. Darah merembes keluar dari pergelangan tanganku yang terpotong.

"Jangan anggap aku bakal kalah, Kitty ...," ucap England.

Aku melotot. Aku benar-benar ingin membunuhnya!

Bats!

"AAAAAAAAAHHHH!!!" Aku melompat ke arahnya lagi.

England tersenyum. Dia menarik belatinya ke belakang, seolah siap menikamku.

Aku melayang ke arahnya. Air mataku mengalir lagi. Wajahku yang cantik, tidak terlihat cantik lagi. Acak-acakan. Mode amukan kucingku mengubah diriku ini. 

Kalau pun aku gagal membunuhnya, setidaknya aku terbunuh. Toh, aku akan bertemu Japan-san yang kusayangi ....

Belati penuh darah itu terayun ke depan. Tepat di dadaku.

Set.

Grep!

"?!"

A-apa? 

Bukannya menusukku, England malah memelukku. Dia melempar belatinya ke belakangku. 

Apa dia gila?!

"Maaf, ya ... aku benar-benar cemburu. Aku termakan emosiku. Aku ingin memilikimu. Aku tak ingin kau dekat dengan Japan meski kita baru kenal .... Aku hanya ... ingin dicintai olehmu ...," ujar England.

Pria itu memelukku erat. Dia bahkan mengelus punggungku. Kenapa? Kenapa tiba-tiba? Apa harus semudah ini? Apa dia tahu kalau aku tidak akan memaafkannya? DIA MEMBUNUH SAHABATKU!!! 

Tanpa kusadari, air mataku kembali mengalir. Bodoh! Kenapa aku menangis? Ini kesempatan untuk menusuk jantungnya! Ayo gerakkin tanganmu!

"Hiks ... hiks ... huhuhuhu ...," tangisanku mulai terdengar keras.

AYO GERAKKIN! GERAKKIN TANGANMU! BUNUH DIA!!! pikiranku memekik hebat.

 "Tak apa jika kau membunuhku. Toh, ini salahku ... maafkan aku ... maaf maaf maaf maaf," pria itu terus meminta maaf.

Jangan meminta maaf! Kau tahu kan aku takkan memafkanmu?! Hentikan, bodoh! Jangan membuatku dibayangi rasa bersalah! Padahal ini salahmu!

Tapi England tak berhenti meminta maaf. Dia malahan mengencangkan pelukannya. Dia mengusap kepala dan punggungku dengan lembut.

"Huuuu ... curang ... kau curang ... huaaaaaa!!!" akhirnya aku menangis keras. 

Sekarang, aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Badanku tidak mau bergerak. Padahal pikiranku memekik hebat.


Ini salahku ....











Memiliki hati yang lemah ....


"Kumohon, katakan apa saja yang harus kulakukan agar aku bisa menebus dosaku, [Name]. Aku ingin dicintai olehmu .... Aku ingin kita hidup bahagia meski banyak tragedi yang menimpa karena aku ... maafkan aku, [Name]."

Aku masih menangis. Tak kusadari aku balas memeluknya.


Kupikir .....



















Aku telah jatuh ke tangannya ....















Tanpa [Name] ketahui, England menyeringai.


End






Tambahan cerita :


Dua hari sebelum pembunuhan Japan.


England duduk di salah satu kursi di cafe mewah, tapi masih bernuansa tradisional. Dia meminum teh ginseng dengan elegan.

"England!" seseorang memanggilnya.

England menoleh. Dia balas melambaikan tangannya.

"Siang, South Korea. Maaf telah mengganggu waktumu," sedih England.

Yap. England berada di Seoul, South Korea. England sebelumnya sempat menghubungi South Korea untuk ketemuan di salah satu cafe di Seoul. Dia bilang dia ingin berbicara dengan South Korea.

South Korea duduk di depan England, "Ada apa sampai jauh-jauh datang ke sini? Kita kan bisa bicara di telepon atau pas rapat dunia?" tanya South Korea.

England terkekeh pelan. Dia kemudian meletakkan cangkirnya yang isinya tinggal setengah.

"Lebih baik membicarakan secara langsung dan jauh dari para personifikasi si*lan," jawabnya.

"Heeee~"

England kemudian memasang wajah serius. Dia menatap South Korea dengan tajam.

Glek, South Korea merinding. 

"Langsung ke intinya saja. Aku ingin bertanya tentang hubungan Japan dengan [Name]."

"Hooo? [Name]? Gadis kucing yang menggemaskan itu? Yaaah ... dia itu dulunya teman masa kecil Japan. Mereka tuh bareeeeeng terus. China saja sampai lelah sama mereka berdua. Bahkan di usia remaja masih mandi bareng, tidur bareng, jalan-jalan bareng, dan serba bareng, deh," South Korea nyerocos.

England mendengar cerita South Korea sambil tersenyum(?).

"Apa kesukaan [Name]? Dan kelemahannya?" Tanya England.

"Hmmm ... [Name] tuh suka mochi, [sebutkan makanan dan minuman kesukaanmu], [mainan kesukaan], [hobi]. Soal kelemahan, [Name] itu orangnya agak gak enakan. Kadang pendiriannya selalu goyah. Japan saja sampai kesal sama [Name] yang tidak bisa tegas sama pendiriannya. Sejujurnya aku jadi kasihan sama [Name], sih ... dimarahin terus!"

England terkejut, "Oh, ya? Maksudmu dia agak naif?"

"Naif, ya? Bisa dibilang begitu."

Bagaikan menemukan jalan keluar labirin, England kemudian tersenyum kecil.

"South ...," panggil England.

"Ya?" South Korea menatap England. Dia kemudian terkejut.

"Terima kasih sudah memberitahuiku."

England tersenyum lebar. Tapi matanya seperti tidak bernyawa. Entah kenapa begitu mengerikan bagi South Korea.

"Ah ... i-iya ... sama-sama ...?"

"Baiklah. Aku ada pertemuan dengan klien lain. Kurasa kita harus akhiri pertemuan ini. Aku pergi dulu," England beranjak. Dia memakai kembali topi gentleman-nya.

England kemudian berjalan keluar dari cafe.

"Um ... am ... dia jadi aneh ...," gumam South Korea.

Di sisi England, dia berjalan dengan elegan. Bibirnya tak henti membentuk lengkukangan ke atas. Membuat siapa pun berpikir dia pria yang bahagia.

Sepertinya bisa kulakukan ini. Meski bakal berantakan, sih .... Tapi demi mendapatkan [Name].







-Tambahan cerita selesai-






"Menyelesaikan masalah, atau bahkan ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkan, manusia pasti melakukan banyak cara yang berbeda. Salah satunya memanipulasi keadaan dan seserang.

Berhati-hatilah ...."


Senin, 04 Juli 2022

Yandere! Russia x Neko! Reader + Prussia [Hetalia]



Sumber Pinterest



 -Russia POV-


     Aku duduk di pinggir pot bunga matahari berukuran segi empat besar itu. Sambil menunggu Prussia datang, aku duduk-duduk sambil melihat tumpukan salju yang mulai menebal.

     Musim dingin kali ini lebih tebal dibanding tahun lalu ..., batinku.

     "Uuum ... permisi ...," suara yang lembut nan manis mengagetkanku.

     Aku menoleh cepat ke belakang. "Oh, ada apa, da?" Tanyaku ramah.

     Dheg.

     Sesosok gadis manis dan cantik tengah tersenyum ke arahku dengan malu-malu. Telinga kucing berbulu putih halus, rambut merah manis, bola mata pink kemerahan yang terlihat menggiurkan, mengenakan kacamata, bibir mungil merah cherry, mengenakan pakaian musim dingin biru-putih, dan ekor kucing panjang berwarna putih salju.

     Kucing putih adalah binatang favoritku.

     Dia ... sangat manis ...

     Bunga matahariku ....

     "Uuum ... kamu tahu di mana apartemen Prussia? Hari ini aku ada janjian dengannya," kata gadis cantik itu padaku.

     Eh? Dia pacarnya Prussia?

     Aku merasakan ada ribuan pedang yang menusuk hatiku. Kenyataan bahwa dia mencari Prussia membuatku kesal. Kesal ....

     Tapi, ini aneh. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Tapi ... kenapa aku bisa sekesal ini ya? Padahal dia bukan siapaku ...?

     Bukan siapaku, kan?

     "Hei, Russia! Kamu sudah lama menunggu?" Suara seseorang yang bersemangat mengagetkan kami berdua.

     "Suara ini ... Prussia!" Pekik gadis neko itu tiba-tiba.

     Aku dan Prussia serentak menoleh ke arahnya.

     "Waaah ... [Name]! Kukira kamu tidak jadi datang ...." Prussia memeluk gadis cantik bin imut yang kuketahui bernama [Name] berkat teriakannya barusan.

     Kesal ... aku kesal ... dia bunga matahariku ....

     "Russia? Kamu kenapa? Kok diam?" Tanya Prussia berhasil membuyarkan lamuanku.

      Aku tersentak. Aku buru-buru memasang senyum kecil. "Ah, tidak apa-apa, da ...," jawabku berbohong. Rasa sakit di hatiku semakin menjadi-jadi ketika aku melihat Prussia dan [Name] saling berpelukan dan melempar senyum dan candaan.

     "Eh, Rus, aku dan pacarku mau pergi. Maaf ya enggak bisa bareng," kata Prussia.

     "Ah ... tidak apa-apa, da. Pergilah, aku tidak mau mengganggu keromantisan kalian," aku tersenyum.

     Prussia dan [Name] saling berpandangan. Mereka kemudian terkikik bersama.

     "Okeee~ Kalau begitu kami pergi dulu, ya!" 

     Mereka berdua pun pergi meninggalkanku seorang diri. Aku sendirian. Tidak ada kehangatan di dekatku selain butiran salju yang memupuk di kepala dan bahuku. Di sekitarku benar-benar kosong. Hanya ada hamparan salju saja.

      Aku kesepian ....

     Ketika aku melihat Prussia dan [Name] saling berpegangan tangan dan menatap satu sama lain, kemudian tertawa ... membuat jantungku seperti ditusuk.

     Aku tidak tahan ... aku tidak suka rasa sakit ini ... benci sekali ....

     Akan kulakukan apa pun untuk menghentikan nyeri di dada ini ... tidak peduli caranya .....

     Tanpa sadar aku membentuk senyuman lebar seperti ingin merobek kedua pipi pucatku.

                                                                            ♡♡♡

-[Name] POV-

     Esoknya ....

     Aku memandang butiran salju yang terus mendarat di atas tanah putih. Sejak kemarin salju tidak berhenti turun. Meskipun dilanda hujan salju ringan, setidaknya kencan kami tidak ada gangguan. Aku ingat betul Prussia mencium bibirku tepat di bawah pohon Natal. Dia juga memberikanku cincin berlian seputih salju ini.

     Kyaaaa! Bikin maluuu! aku memekik dalam hati.

     Namun, meski terasa memalukan, tapi juga sangat romantis. Kalau dipikir-pikir terus, aku jadi tidak bisa berhenti tersenyum. Kedua pipiku sudah dipastikan memerah padam.

     Ketika sibuk bernostalgia kejadian kemarin, tiba-tiba dadaku terasa sakit. Ada kecemasan yang berlebihan jauh di lubuk hatiku. Aku menghela napas. Kupandang pemandangan serba putih itu di balik jendela yang besar.

     Apa yang sebenarnya terjadi?

     Hari ini perasaanku sangat tidak enak. Aku merasakan kalau Prussia dalam bahaya. Tapi, apa? Apa yang membuat Prussia dalam bahaya? Ditambah lagi, penglihatanku tentang Prussia sedikit buram. Seolah-olah ada seseorang yang menghalangiku.

     Ck, masa bodoh. Lebih baik aku langsung ke rumahnya saja. Daripada berdiam diri sambil mencemaskan dirinya-tanpa menengok ke rumahnya sama saja bohong kan?

     Aku beranjak dari posisi dudukku. Kemudian aku berlari ke teras dan memakai sepatu boots-ku dengan tergesa-gesa. Sebelum keluar, aku diam-diam mempersiapkan pisau kesayanganku. Mungkin, siapa tahu ada sesuatu yang terjadi pada Prussia atau diriku.

     Meski begitu ... aku tidak berharap sesuatu yang buruk akan terjadi ....

                                                                            ♡♡♡


-Normal POV-

     [Name] berlari mendekati pintu rumah Prussia. Ketika ia sampai di depan pintu, tiba-tiba saja [Name] mencium bau amis yang sangat menusuk. Bukan hanya itu saja. Tapi, dia juga merasakan aura pembunuh yang mengerikan.

     Ada apa dengan Prussia?

     Tok ... tok ... tok ...

     [Name] mengetuk pintu rumah Prussia dengan pelan.

     Tidak ada jawaban.

     Sekali lagi, [Name] kembali mengetuk pintu itu. Kali ini dia mengetuknya dengan keras.

     Tetap tidak ada jawaban.

     "Prussia ... ada apa denganmu?" Gumam [Name] khawatir.

     [Name] pun mencoba memutar kenop pintu itu.

     Cklek.

     Pintu rumah Prussia terbuka. Tampaknya Prussia tidak menguncinya. [Name] pun terbelalak senang. [Name] lalu berlari memasuki ruang rumah Prussia.

     "Prussia! Prussia!" Panggil [Name].

     Namun sayang, tidak ada jawaban satu pun dari Prussia. [Name] lama-kelamaan menjadi cemas. Firasatnya mengatakan kalau terjadi sesuatu yang mengerikan menimpa Prussia.

     [Name] lalu berjalan menuju lantai 2, tempat kamar Prussia berada. Ketika ia hendak menginjakkan kakinya di lantai 2, tiba-tiba [Name] merasakan aura yang tidak enak.

     Apa terjadi sesuatu yang mengerikan pada Prussia? Gumam [Name], cemas. Kecemasannya semakin bertambah ketika dia berdiri di depan pintu kamar Prussia.

     Kumohon ... jangan terjadi sesuatu yang mengerikan ....

     [Name] perlahan memutar kenop pintu kamar Prussia. Cklek. Krieet .... suara decitan pintu menggema.

     "Prussia? Kamu di mana?" 

     Kosong.

     Dan ada bau amis.

     "Prussia?" 

     Pyak.

     Sesuatu yang basah mengenai sepatu boots [Name]. [Name] menengok ke bawah kakinya. Dia kembali mengeceknya apa yang dia injak dengan menghentakkannya lagi.

     Pyak.

     "Apa-apaan nih?" Gumam [Name], penasaran.

     [Name] akhirnya berjongkok dan mengecek cairan yang cukup tajam baunya dan kental.

     Itu ...

     Darah ....

     "KYAAAA!!!"

     [Name] jatuh terduduk. Pakaian musim dingin bagian bawahnya basah terkena darah. Air mata [Name] menetes. Dengan badan gemetar, [Name] mencari Prussia. [Name] yakin kalau Prussia tak jauh darinya.

     "PRUSSIA! PRUSSIA!" Jerit [Name] dengan nada putus asa.

     Tapi ruangan itu terlalu gelap. Segera [Name] beranjak dan meraba-raba dinding untuk mencari letak sakelar. [Name] sudah sering mengunjungi rumah Prussia. Seharusnya dia tahu dengan detail isi rumah pacarnya ini.

     Tap.

     Ketemu!

     Jari lentik dan mungil [Name] menekan sakelar itu dengan gemetar.

     Pats. Lampu kamar menyala terang.

     Ketika lampu menyala, [Name] lantas merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Dengan patah-patah dia menoleh ke belakang.

     JDAR!

     [Name] melihat Prussia. Dalam keadaan sudah tergeletak mati. Wajah Prussia menjadi tidak keruan dan penuh darah. Pakaian militer kebangaannya penuh sobekan dan darah merah.

     "Tidak ... Prussia ... tidak ... TIDAK!!!"

     "Ow, ow, ow ... jangan menangis, bunga matahariku, da," suara lumayan lembut dan menusuk itu sukses membuat telinga neko [Name] berdiri tegak. 

     [Name] menoleh ke belakangnya dengan patah-patah. "Ru ... Russia ... Russia?"

     Russia tersenyum lebar. "Jangan menangis, Sayang ... kamu masih punya aku ...," Russia berjalan memasuki kamar.

     [Name] yang ketakutan setengah mati lantas mundur ke belakang. Pria di depannya dipenuhi darah merah segar. Dia melihat ada luka sayat dan luka tembak di badannya. Sepertinya Russia sempat bergelut dengan Prussia.

     "Ke-kenapa?"

     Russia bingung. Langkahnya pun turut terhenti.

     "Kau bertanya kenapa? Hmmm ... kenapa, ya? Aku juga tidak tahu, da~" Russia tersenyum manis. "Tapi yang kutahu aku hanya ingin menghentikan rasa sakit di dada ini~"

     Russia memegang dadanya. 

     "Maksudnya ...?"

     "Maksudku, aku tidak ingin kalian saling memiliki. Aku ingin yang memiliki kalian. Aku benci kesepian. Aku suka padamu, [Name] ... tapi aku juga suka Prussia ...," Russia kembali melanjutkan langkahnya. 

     [Name] semakin panik. Dia terus mundur ke belakang. Namun, punggungnya berakhir bersentuhan dengan dinding yang dipenuhi percikan darah.

     Tidak! Tidak! Tidak!

      Russia ... dia mengeluarkan pipa besinya. Dan ... mengangkatnya tepat di atas kepala [Name].

     Buk!

     [Name] pingsan seketika.

     "Kamu akan menjadi milikku selamanya, da. Kau dan Prussia .... Selamanya ... di sampingku ...."

     Russia menyeringai lebar. Russia lalu berjongkok dan mengangkat [Name] yang pingsan itu. Dia juga mengangkat Prussia. Sambil membawa [Name] dan Prussia pergi, Russia tertawa seperti orang kerasukan.

                                                                                ♡♡♡

     Tes ... tes ... tes ....

     Suara tetesan menggema ruangan itu. Di ruangan itu, banyak sekali alat masak, alat kebun, dan peralatan bedah. 

     Russia tersenyum sambil menggerakkan pisaunya. Sesekali dia berdendang merdu.

     "Lalala ... bunga matahariku yang cantik ...."

     "Bunga matahariku yang cantik ... sebentar lagi akan bangun ...."

     Selesai menggerakkan pisaunya, Rusia membawa sesuatu yang menjadi sasaran pisau itu. Russia kemudian membentuk sesuatu seperti membuat patung.

     "Jadi! Bunga matahariku sudah jadi!" Rusia senang.

     Hasil karyanya sudah jadi. Hasil karyanya berupa patung bunga matahari yang disusun seperti menyusun lilin mainan. Bedanya, patung bunga matahari itu dibuat dari ......












......






















     Daging 2 orang tercintanya ....

     Patung itu menampilkan 2 kepala manusia yang sedang tertidur. Seolah-olah mereka menjadi satu. Hanya untuk Russia seorang.






     "Aaaahhh~ akhirnya yang aku inginkan telah datang~"

     Tes .... tes ... tes ....

     Darah segar yang menutupi daging membentuk patung bunga matahari itu kembali menetes. Menambah keindahan yang kelam pada patung itu.




                                                                             ♡♡END♡♡

Salah Paham (Hetalia Chat) ft.Indonesia x Prussia

 Suatu hari di per-chatan para personifikasi. France : Sepi euy England : Cie ada yang kesepian France : Ucap seseorang yang seharian dikaca...